Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘fiksi’

Seorang gadis kecil termenung di depan sebuah toko coklat, matanya tertuju pada sebatang coklat berhiaskan pita cantik. Ingin rasa hati mendapatkan coklat itu untuk dibawanya pulang. Gadis kecil memutar otak mencari jalan bagaimana caranya agar coklat tersebut bisa berpindah ke tangannya.

coklat sayang

Matanya yang cerdas menelusuri setiap ruangan dalam toko, dilihatnya seorang Pemuda gagah yang sibuk sendirian menata kardus-kardus dan membuat rapi rak-rak toko. Segera gadis kecil masuk dengan penuh optimis, dan berkata kepada pemuda tersebut

” Kakak yang baik …. bolehkah aku membantu kakak merapikan rak-rak itu ?” tanya gadis kecil dengan sikap badan yang menunjukkan bahwa dia mampu mengerjakan tugas itu.
Pemuda itu terdiam sesaat, dilihatnya mata gadis kecil lebih dalam, dalam mata itu tersirat harapan agar ia diterima untuk membantunya.

” Hai gadis kecil, katakan padaku kenapa kau ingin membantuku ?”

” Kakak yang baik … aku ingin membantu kakak dengan harapan mendapat imbalan sebatang coklat yang aku suka.” jawab gadis kecil dengan lugu dan jujur.

” Sebatang coklat ini terlalu mahal kalau aku jadikan imbalan atas bantuanmu itu.”

” Kalau begitu, biarkan aku membantu kakak berhari-hari sampai cukup pantas bagiku untuk mendapatkan sebatang coklat itu.” kata gadis kecil penuh semangat.

Melihat kegigihannya, pemuda tersebut mengabulkan permintaannya. Lalu terlihatlah gadis kecil itu sibuk membantu pemuda merapikan rak-rak. Terkadang membantu pelanggan menunjukkan coklat yang sesuai selera mereka, terkadang sibuk memanjat tangga untuk membersihkan kaca-kaca lemari. Banyak hal yang ia lakukan dengan gembira, hingga tak terasa suasana gembira itu mempengaruhi jiwa dan perasaan pemuda yang biasanya hanya bekerja seorang diri.

Hari demi hari berganti, menjadi dalam hitungan minggu. Gadis kecil itu masih saja melalui hari-harinya dengan gembira bahkan tak terlintas sedikitpun di pikirannya untuk menanyakan upahnya berupa coklat. Hingga suatu hari pemuda itu dengan terpaksa mengatakan kepada gadis kecil bahwa ia telah bekerja padanya melebihi dari harga sebatang coklat.

” Mengapa kakak tidak mengatakan padaku pada hari yang tepat saat aku sudah bisa mendapatkan coklat tersebut ?” tanya gadis kecil dengan wajah agak cemberut.

” Aku kira kamu lebih bahagia bekerja disini daripada sebatang coklat itu, karena bahkan tak sekalipun kau menanyakan tentang coklat itu lagi, dan sebenarnya aku lebih senang jika kamu ada disini menemaniku terus.” jawab pemuda itu dengan tenang.

” Tidak kakak … aku memang tidak menanyakan karena aku anggap kakak sudah tau akan hakku, aku bahagia karena aku berharap segera mendapatkan sebatang coklat itu, dan aku tidak pernah menanyakan batas upahku karena aku tau pasti kakak tidak akan pernah bohong.”

Tercengang pemuda itu mendapatkan jawaban seorang gadis kecil, lalu dengan perlahan Ia melangkah mengambil sebatang coklat untuk diberikan kepada gadis kecil.

” Ambillah dan makanlah … dan ini ada beberapa rupiah untukmu agar bisa kau tabung.”

Dengan mata berbinar gadis kecil itu menerima sebatang coklat
impiannya lalu segera membungkusnya. Pemuda itu memperhatikan dan heran kenapa gadis itu tidak segera makan coklat impiannya itu ?

” Coklat ini untuk Ibuku, sepanjang hidupnya Ibuku belum pernah makan coklat. Aku pasti akan bahagia melihat senyum ibuku, karena di dalam sebatang coklat ini aku sisipkan sejuta rasa cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang sebagaimana Ibuku telah mencintai dan menyayangiku, bahkan ketika aku telah berbuat satu hal yang membuatnya menangis dan bersedih hati.”

” Hai gadis kecil, apakah perbuatan yang membuat ibumu menangis dan bersedih hati itu ?” tanya pemuda penasaran.

” Aku pergi dari rumah berhari-hari lamanya dengan alasan mencari kasih dan cinta. Ibuku pasti terpukul karena mengira aku tidak mendapatkan kasih dan cintanya.”

Pemuda itu terdiam dalam keharuan, ia kagum betapa gadis kecil itu sudah bisa memikirkan kasih dan cinta. Betapa ia sudah bisa memikirkan cara untuk membuat Ibunya bahagia, hingga tak terasa titik air mata meleleh di pipinya. Lalu sambil tersenyum ia mengatakan kepada gadis kecil bahwa ia akan mengantarkan gadis itu menemui Ibunya dengan membawa cinta dan kasih yang selama ini ia cari dan ia selipkan dalam sebatang coklat.

 

 

@office,15Feb11,@lonewithoutHim@

Iklan

Read Full Post »

Gubrak !!!

Tersentak diriku ketika mendengar kabar akan kedatangannya. Bayangkan, dalam keadaan diriku yang sedang sakit begini aku akan kedatangan seorang yang sungguh-sungguh cerewet dan super tukang protes. Apapun yang telah kulakukan tidak pernah benar di matanya. Selalu saja ada alasan untuk membuat aku terpojok. piuufff ….. Dan cerewetnya itu tuh yang seringkali membuat aku ternina bobokan kala mendengar cerita-ceritanya.  Mulai dari bahan cerita tentang temannya yang bernama A sampai yang bernama J. Tentang petualangan-petualangannya yang entah sudah berapa kali telah di dendangkan ditelingaku setiap datang kemari.

Sekarang …. apa yang harus kulakukan ? menolaknya mentah-mentah dengan alasan ” Maaf …. Embah … jangan dulu kesini karena saya sedang sakit.”  ataukah …. ” Embah …. kesininya ditunda dulu aja ya kapan-kapan karena cucumu ini sedang tidak enak badan, kedatangan Embah akan menambah ketidakenakan ini. ”  xixixixi ….. dasar cucu yang kurang ajar. Manalah mungkin aku lakukan itu.

Hmmpppffff …. >,,<

Memikirkan hal itu membuat kepalaku semakin berat dan badanku terasa panas menggigil. Kupejamkan saja mata ini, lelah aku dibuatnya. dalam keadaan sakit seperti ini membuat hatiku menjadi sensi dan menakutkan sesuatu yang belum  kualami.

Damai ….. dengan mata terpejam kucoba lupakan semua masalah-masalahku. Pikiran-pikiran jelekku tentang segala hal terutama tentang Mbah Sal. Kurasakan badanku terasa semakin menggigil, aku butuh selimut !!! yup … mana selimutku ya ??? kuraba-rabakan kakiku pada ujung tempat tidurku berharap menemukan lipatan selimut. Tidak ada …   ??? kemana gerangan, selimut itu selalu kulipat dan kutaruh diujung tempat tidur. sekarang menghilang …. o’o …. mataku sepertinya tak kuasa aku buka. Badanku lemah …. setiap persendian tubuhku seakan lunglai tak bertenaga. Oh Tuhan …. tubuhku ini sangat kedinginan. Dalam rumah ini tidak ada lagi orang selain aku. Oh Tuhan …. please help me … berikan aku selimut  …… aku butuh saat ini Ya Tuhan ….

Dalam kegalauan …. tiba-tiba kurasakan kehangatan  menyelimuti tubuhku. Oooohhh ….. ALhamdulillah …… Tuhan menjawab permohonanku. Selimut ini datang sendiri, menutupi tubuhku. Aku tersenyum dibuatnya. Damai …..  kehangatan selimut ini membuat tubuhku tidak lagi menggigil. Badanku jadi serasa ringan, relax …. setiap persendian tubuhku seakan dipijit dan kembali nyaman. Ternyata memang benar aku tidak perlu lagi kedatangan Embah Sal. Karena semua telah bekerja sendiri untukku.

Gubrak !!!

Tersentak aku oleh suara keras yang terjatuh ke lantai. Lamat-lamat kubuka mataku, ada sesuatu yang basah diatas keningku. lipatan handuk untuk mengkompres. Kusingkirkan handuk itu …. perlahan aku dudukkan tubuhku dan mencoba berdiri menuju kearah suara. Belum sampai tubuhku berdiri tegak …. tiba-tiba muncul seraut wajah dengan agak tergopoh mencoba menolongku.

Oh Tuhan …. Dia adalah Mbah Saliyem …. orang yang telah merawatku semalam, memijit tubuhku, mengkompres keningku. Menyiapkan bubur untuk sarapanku …..

..~..

Read Full Post »